Stres, Kelelahan, Cemas dan Depresi: Pentingnya Kesehatan Jiwa Bagi Pekerja

"Iklas, Sabar, dan Sadar" adalah mantra yang disampaikan oleh dr. Andri, SpKJ, FAPM, dalam acara 1st Employee Health Talk Aurogen. Mantra ini sangat relevan dengan tema Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2024 yang juga menjadi topik Employee Health Talk: "Saatnya Memprioritaskan Kesehatan Mental di Tempat Kerja". Acara ini diadakan bersamaan dengan peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia setiap tanggal 10 Oktober.

Kesehatan Mental Pada Pekerja

Di awal sesi, dr. Andri menjelaskan bahwa menurut definisi WHO 2015, bekerja secara produktif dan mampu berkontribusi di lingkungan adalah salah satu indikator kesehatan jiwa. Hambatan yang sering dihadapi pekerja untuk bekerja produktif adalah stres. Stres adalah hal yang normal, namun jika dibiarkan, dapat berkembang menjadi burnout, gangguan cemas, atau depresi.

Stres vs Kelelahan vs Gangguan Cemas/Depresi

Stres biasanya bersifat sementara. Burnout atau yang dikenal dengan Kelelahan adalah bentuk stres yang berkepanjangan. Tanda-tandanya? "Malas datang ke kantor!" kata dr. Andri. Pada tahap ini, karyawan dapat mengalami kelelahan fisik, mental, dan emosional akibat pekerjaan. Jika dibiarkan, burnout dapat berkembang menjadi gangguan cemas atau depresi, yang jika sudah mengganggu fisik dan fungsi sosial seseorang, memerlukan penanganan lebih lanjut oleh tenaga medis profesional.

Karyawan dan Stres: Apa Yang Harus Dilakukan?

Cara Menghadapi Stres: Fight atau Flight.Menurut dr. Andri, SpKJ, ada dua cara utama dalam menghadapi stres: fight (menghadapi) atau flight (menghindari). Berdasarkan keahlian dan pengalamannya, dr. Andri menekankan tiga hal yang dapat membantu seseorang yang memilih untuk menghadapi stres:

1. Kepuasan/rasa cukup: Selalu merasa bersyukur dan cukup dengan apa yang dimiliki saat ini. Orang yang sering merasa kurang akan lebih rentan terhadap stres.2. Jaminan/rasa keamanan: Lingkungan yang aman, baik di tempat tinggal maupun di tempat kerja, membantu seseorang terhindar dari stres. Faktor keamanan lain yang relevan bagi karyawan termasuk jaminan pensiun, asuransi kesehatan, dan jaminan kelangsungan pekerjaan. Kehilangan salah satu dari faktor ini dapat memicu ketidaknyamanan atau stres.3. Terhubung/Interaksi Sosial: Melakukan aktivitas bersama-sama, di mana karyawan merasa tidak sendirian dan memiliki sistem pendukung yang memadai.

Ketika Burnout Menjadi Cemas atau Depresi

Dr. Andri menjelaskan bahwa kecemasan atau depresi yang muncul akibat burnout berkepanjangan memerlukan penanganan, terutama jika sudah ada gangguan fisik, fungsi tubuh, dan/atau fungsi sosial yang berlangsung selama 2 minggu hingga 6 bulan.

Gangguan psikosomatis yang sering dikeluhkan meliputi jantung berdebar-debar, rasa tidak nyaman atau nyeri di lambung, kelelahan, bahkan saat tidak bekerja, dan nyeri pada bahu. Pengobatan awal biasanya fokus pada meredakan gejala, sambil membantu memperbaiki mekanisme adaptasi seseorang terhadap kecemasan atau depresinya untuk mencegah kekambuhan.

Kebijakan Kantor Untuk Kesehatan Mental Karyawan

Sebagai penutup sesi, dr. Andri memberikan rekomendasi untuk perusahaan dalam mendukung kesehatan jiwa karyawan. Langkah sederhana yang dapat dilakukan termasuk program keterlibatan karyawan yang rutin, menyertakan pemeriksaan kesehatan mental dalam MCU, dan menciptakan budaya kerja yang bebas stres, seperti menghilangkan senioritas dan lebih humanis dibandingkan patriarki. Target produktivitas tinggi tidak akan tercapai jika karyawan tidak bahagia.

 

Narasumber: dr. Andri, SpKJ, FAPMRS EMC Alam SuteraInstagram: @andripsikosomatikTwitter: @mbahndiYoutube: Andri Psikosomatik

Baca Berita Lainnya

Hubungi Kami